Archive for the Uncategorized Category

Mimpi PSSI Menjadi Tuan Rumah PD

Posted in Uncategorized on Mei 2, 2009 by erikpurnama

Senin, 23 Maret 2009 (Jurnal Nasional)

Niatan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) menjadi penyelenggara perhelatan Piala Dunia (PD) pada 2022 patut dipertanyakan, meskipun itu sebuah gagasan cemerlang. Bukannya bermaksud sinis dengan niatan baik PSSI, melainkan rencana itu dapat disebut sebagai sebuah sensasi besar dan bombastis, namun jauh dari harapan.

Coba saja isu tersebut dilemparkan kepada komunitas gibol (gila bola), pasti banyak yang menilai bahwa ide PSSI sungguh konyol dan sangat muluk-muluk. Bukannya meremehkan kemampuan PSSI dalam hal menyelenggarakan sebuah turnamen besar berskala internasional, tetapi induk persatuan sepakbola nasional itu perlu berkaca diri terlebih dulu sebelum melemparkan wacana yang kadung dicibir banyak pihak tersebut.

Pasalnya menjadi tuan rumah turnamen sepakbola terakbar di dunia butuh tenaga, biaya, transportasi, sumber daya manusia (SDM) dan sarana infrastruktur yang luar biasa besarnya. Ditambah lagi masalah keamanan dan pembangunan delapan stadion baru berteknologi tinggi, serta fasilitas tingkat satu guna menyambut bintang sepakbola dan pejabat tinggi induk organisasi sepakbola dunia (FIFA), tentu semua syarat itu merupakan tugas berat yang dapat dikatakan masih sulit dipenuhi oleh PSSI.

Karena itu pengamat sepakbola dan masyarakat pecinta bola menilai jika Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid, yang ingin mengajukan proposal pencalonan menjadi tuan rumah PD patut dipertanyakan dan niatan itu dapat disebut sebagai sebuah rencana ambisius. Mengingat tujuan lainnya menjadi tuan rumah PD adalah tim nasional (timnas) Indonesia bisa langsung lolos dan bermain di ajang tertinggi sepakbola di dunia.

Sudah menjadi rahasia umum di kalangan komunitas gibol bahwa citra petinggi PSSI banyak yang tercoreng dan memiliki track record kurang baik ketika menahkodai organisasi yang memayungi kompetisi sepakbola tanah air itu. Pasalnya, banyak aturan yang dikeluarkan tidak konsisten dan dalam hal penegakan aturan terkait peningkatan mutu liga domestik sering kontraproduktif yang membuat kompetisi Indonesia Super League (ISL) menjadi kacau dan mirip liga antarkampung, serta jauh dari kata profesional. Sehingga kondisi itu menciptakan pandangan umum bahwa kinerja PSSI sangat buruk dalam menyelenggarakan kompetisi sepakbola profesional Indonesia.

Berkaca dari tak becusnya PSSI dalam mengelola liga domestik, maka tidak salah sangat diragukan masyarakat ketika PSSI ingin menjadi tuan rumah agar pagelaran PD 2022 bisa di Indonesia. Sehingga keinginan Nurdin Halid itu bias disebut asbun (asal bunyi) dan tidak memikirkan konsekuensi ucapannya, serta hanya bisa bikin sensasi.

Saat ini, tim nasional (timnas) sepakbola Indonesia berbicara di level Asia Tenggara saja sudah tak sanggup dan dipandang bukan lagi sebagai kekuatan menakutkan. Ditambah rendahnya skill pesepakbola tanah air membuat timnas tidak layak jika harus bersanding dengan timnas Brazil, Italia, Jerman, dan Argentina.

Saya pribadi sangat senang jika suatu saat Indonesia menjadi tuan rumah PD. Namun sebelum itu, PSSI mesti berkaca diri terlebih dulu sebelum melangkah lebih jauh dan membenahi citranya yang sudah buruk, serta memperbaiki kualitas liga domestik supaya bias menghasilkan banyak pemain berkualitas tinggi. Sehingga dapat bersaing dengan pemain dari Negara maju lainnya.

Semua itu mutlak dilakukan PSSI supaya ketika nanti benar-benar serius ingin menjadi tuan rumah PD tidak diremehkan masyarakat. Di samping itu, terdekat PSSI mesti berintropeksi dengan melihat ke dalam apakah SDM yang ada sudah mumpuni guna menyambut penyelenggaraan helatan terakbar sepakboladi planet bumi. Hal itu penting agar PSSI tidak ngotot mengajukan diri kepada FIFA supaya mimpinya menjadi tuang rumah PD tidak dipaksakan.

Erik Purnama Putra

Pelajar Psikologi UMM

Susahnya Menjadi Petani

Posted in Uncategorized on Desember 11, 2008 by erikpurnama

Suara Konsumen, Kamis, 3 Desember 2008 (Suara Konsumen)

BANYAK kalangan menilai nasib petani selalu kurang beruntung dan terpinggirkan. Hal itu terjadi karena dari dulu hingga sekarang, petani selalu termarjinalkan dan kurang mendapatkan perhatian pemerintah.

Baru-baru ini, peristiwa kelangkaan pupuk bersubsidi pada musim tanam membuat petani kelabakan. Langkanya pupuk di pasaran membuat petani tidak bisa menanam bibit. Kepanikan melanda berbagai daerah

Jika pun pupuk didapatkan harganya sudah melambung tinggi di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 60.000 per sak (50 kg) yang ditetapkan pemerintah. Menyikapi kondisi itu, pemerintah harus turun tangan dengan membuat kebijakan yang sekiranya dapat menolong petani. Pemerintah harus menggelontor pupuk supaya petani tidak terhambat dalam menghadapi musim tanam.

Di samping itu, pemerintah juga harus pro aktif menelusuri langkanya pupuk di pasaran. Karena ditengarai ada beberapa oknum yang terlibat penimbunan pupuk. Sehingga petani kesulitan mendapatkan pupuk di pasaran. Distributor nakal yang ketahuan menimbun juga perlu diberi pelajaran dengan dihadapkan pada hukum berlaku.

Presiden SBY mengajak semua pihak bekerjasama mengawasi jalur distribusi pupuk bersubsidi supaya dinikmati yang benar-benar punya hak. Masyarakat juga diajak untuk ikut mengawasi penyaluran pupuk supaya tidak terjadi penyimpangan, mulai dari pabrik hingga sampai ke tangann petani.

Pemerintah daerah (pemda) harus turun tangan menata jalur distribusi pupuk supaya alurnya jelas dan dapat sampai ke petani tanpa hambatan. Komitmen pemerintah yang ingin membantu kesulitan petani harus dibuktikan.

Boleh saja Departemen Pertanian (Deptan) beralibi bahwa ketersediaan pupuk nasional jumlahnya masih mencukupi kebutuhan petani. Tetapi, keadaan di lapangan menunjukkan petani kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi. Tindakan pemerintah yang menggelontor 300 ribu ton pupuk bersubsidi akan tidak banyak membantu penderitaan petani jika alur distribusi tidak ditata dengan baik dan masih banyak pihak yang bermain dengan pupuk.

Jika ada yang sampai tertangkap menimbun pupuk, pelaku harus dihukum berat. Karena sudah membuat harga pupuk melambung tinggi dan menyusahkan petani. Sehingga banyak petani di berbagai daerah marah karena sulit mendapatkan pupuk bersubsidi. Bahkan, di Bojonegoro, petani menyandera dua truk pengangkut pupuk bersubsidi karena mereka jengkel banyak truk bermuatan pupuk yang melewati daerahnya, namun di lapangan pupuk tetap sulit didapatkan.

Petani adalah profesi paling banyak ditekuni masyarakat Indonesia. Meskipun kebijakan pemerintah kadang kurang berpihak kepada petani, namun selama ini petani tetap saja turun ke sawah untuk menanam padi. Apalagi demografi petani di Indonesia sebagian besar hanya menjadi buruh dan tidak memiliki lahan garap sendiri. Sehingga ketika harga jual komoditas tanamnya jatuh mereka hanya bisa meratapi nasibnya dan berharap kerugian yang disandangnya tidak terlalu besar.

Tengok saja kesejahteraan petani yang sebagian besar kesejahteraannya masih di bawah standart. Walaupun begitu, mereka tetap saja menggeluti profesi itu tanpa pernah mengeluh. Petani hanya berharap kebijakan yang dikeluarkan bisa membuat petani bahagia dan melanjutkan aktivitasnya pada musim tanam berikutnya.

 

Erik Purnama Putra

Anggota Forum Diskusi Ilmiah UMM

Gedung SC Lt.1 Bestari UMM, Malang

 

Mahasiswa, Penggerak Melawan HIV/AIDS

Posted in Uncategorized on Desember 2, 2008 by erikpurnama

Suara Konsumen, 2 Desember 2008 (Surabaya Post)

Peringatan hari AIDS diperingati 1 Desember setiap tahunnya. Dari waktu ke waktu penyakit AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) yang merupakan penyakit berbahaya ini semakin banyak menimbulkan korban.. Penyakit yang disebabkan virus HIV (Human Immunodeficiency Virus), belum ditemukan obat penawarnya hingga sekarang. Karena itu, jumlah korban angka kematian yang diakibatkan penyakit tersebut sangat besar.

Misalnya, akibat pergaulan yang terlampau bebas di era sekarang, membuat para generasi muda, khususnya mahasiswa berpotensi besar terkena penularan penyakit tersebut. Untuk itu, perlu dilakukan upaya penanganan komprehnsif dengan cara mencegah penyebaran penyakit mematikan itu dengan memberikan pendidikan terkait bahayanya penyakit HIV/AIDS, serta harus dibentuk sebuah penyadaran gerakan masif peduli terhadap penderita HIV/AIDS supaya tidak semakin banyak yang terkena penyakit berbahaya itu.

Di samping itu, penyebab utama yang bisa menyebarkan penyakit AIDS adalah pemakaian bersama jarum suntik dalam pemakaian penyalahgunaan narkoba, dan akibat perilaku seks menyimpang karena berganti pasangan yang tak resmi dan tidak aman.

Informasinya, penderita penyakit AIDS di Indonesia kebanyakan adalah orang muda berusia produktif antara 19–26 tahun, yang sebagian besar adalah mahasiswa. Sebenarnya, peran mahasiswa yang bisa menjadi contoh baik bagi masyarakat dalam melawan penyakit tersebut malah berujung kontradiksi. Di mana, malah mahasiswa yang banyak mengidap penyakit HIV/AIDS.

Alih-alih menjadi contoh masyarakat, malahan mahasiswa menjadi kelompok terbesar yang terkena HIV/AIDS. Hal itu terjadi karena banyak di kalangan mahasiswa yang melegalkan pergaulan bebas dan menjadi pecandu narkoba dengan memamaki jarum suntik. Ditambah karakteristik umum mahasiswa yang memiliki rasa ingin tahu sangat tinggi menyebabkan mereka mencoba segala sesuatu yang menurutnya menarik dan tidak begitu peduli dengan akibat buruk yang bisa timbul akibat ulah negatif tersebut.

Di sini lah peran mahasiswa sebagai individu yang berpendidikan tinggi bisa dijadikan sebagai motor penggerak dalam upaya mempromosikan pencegahan penyakit AIDS. Sebagai kaum muda berintelektual tinggi sudah selayaknya mahasiswa menjadi teladan masyarakat untuk memberikan pengetahuan bahwa penyakit AIDS sangat berbahaya bagi kehidupan  manusia.

Sehingga upaya pencegahan dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat pasti dampak hasilnya lebih baik dibandingkan efek kurasi. Karena itu, upaya maksimal untuk menyerukan kepada masyarakat dampak yang ditimbulkan penyakit AIDS harus terus dilakukan mahasiswa. Dan perilaku mahasiswa diharapkan dapat menjadi contoh baik bagi masyarakat untuk menggalakkan program melawan penyakit AIDS.

Erik Purnama Putra

Anggota Forum Diskusi Ilmiah UMM

Gedung SC Lt 1 Bestari UMM, Malang

Jakarta, Ibu Kota yang Ringkih

Posted in Uncategorized on Desember 2, 2008 by erikpurnama

Jumat, 28 November 2008 (Jurnal Nasional)
Melihat kondisi Jakarta sekarang, sungguh mengerikan sekali. Apalagi saat ini sudah memasuki musim penghujan yang membuat banyak wilayah Jakarta berpotensi terendam air. Walaupun hujan cuma turun sebentar, kondisi itu sudah cukup membuat Ibu Kota itu menjadi daerah kubangan air.
Wilayah geografis Jakarta yang sudah sangat padat penduduk dan semakin menyempitnya luas daerah hijau membuat Jakarta tidak bisa melepaskan diri dari ancaman banjir. Apalagi daerah Jakarta terletak di dataran rendah yang posisinya sama dengan air laut. Sehingga potensi terjadinya banjir saat hujan tiba semakin besar. Dan itu menyebabkan Jakarta menjadi kota yang rapuh dalam menghadapi gejolak alam.
Berkaca dari pengalaman musim lalu, di mana terjadi banjir besar dan banyak daerah yang biasanya tidak masuk kawasan rawan banjir, ternyata juga tidak bisa melepaskan diri dari genangan air. Sehingga perlu dilakukan uji langkah pencegahan dan secara serius dan komprehensif agar ancaman banjir tidak semakin besar dan menjadi momok bagi warga Ibu Kota.
Yang menjadi pertanyaan sekarang, bagaimana kesiapan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk mencegah banjir agar tidak semakin parah bisa diupayakan. Pasalnya, janji Pemrov untuk membebaskan Jakarta dari banjir hingga kini masih isapan jempol belaka dan tak bisa dibuktikan. Rencana pembenahan saluran air yang menjadi agenda kerja yang paling mendesak tidak juga kunjung direalisasikan dengan baik.
Penyelesaian pembangunan Banjir Kanal Timur (BKT) yang sempat macet juga belum jelas kapan bisa diselesaikan. Memang pembangunan BKT bukan jaminan bahwa Jakarta bisa bebas banjir. Namun setidaknya langkah itu bisa mengurangi dampak buruk yang lebih besar akibat banjir.
Juga masih ada program pembangunan lain, yaitu pengoptimalan saluran Banjir Kanal Barat (BKB) yang tak boleh dilupakan Pemprov. Karena selama ini, akibat kurangnya prioritas pembangunan saluran khusus banjir itu membuat banjir menjadi musibah yang terlalu sering melanda Jakarta.
Di samping program pencegahan banjir, pembangunan yang semrawut dan tak terkendali yang membuat keseimbangan alam menjadi terganggu juga perlu dicarikan jalan keluar oleh pemprov. Karena semakin menyempitnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) dengan beralih fungsi menjadi daerah industri dan pemukiman membuat lingkungan menjadi rusak. ah banyak yang tertutup beton.
Sudah saatnya bagi Pemprov Jakarta untuk menepati janjinya, yaitu membebaskan kawasan Jakarta dari banjir. Penambahan RTH mutlak dilakukan. Disamping itu, juga perlu diadakan pembenahan manajemen saluran tata air. Karena diyakini banyak kalangan bahwa permasalahan banjir disebabkan karena dua faktor tersebut. Yaitu, menyempitnya RTH dan banyaknya pengalihfungsian lahan resapan air menjadi pemukiman maupun maupun perkantoran.
Karena itu, pemprov DKI Jakarta harus menegakan aturan tentang pendirian bangunan (gedung), serta jangan mengobral izin pendirian bangunan di atas lahan RTH. Karena jika hal itu terus terjadi dikhawatirkan akan semakin mengancam lingkungan dan penduduk Jakarta. Sehingga, dampaknya Jakarta akan semakin terancam akan kehadiran banjir yang sewaktu-waktu dapat menenggelamkan seluruh wilayah Ibu Kota.

Erik Purnama Putra
Mahasiswa Psikologi UMM
Gedung SC Lt. 1 Bestari UMM

Pesawat Khusus Kepresidenan

Posted in Uncategorized on November 22, 2008 by erikpurnama

Sabtu, 22 November 2008 (Jurnal Nasional)

Sejarah berdirinya negara Indonesia mencatat bahwa negeri ini sudah berumur 63 tahun lebih sejak mengumandangkan kemerdekaan pada 1945. Namun, sejak saat itu pula hingga sekarang bangsa Indonesia masih belum memiliki pesawat khusus kepresidenan. Padahal, pengangkut udara itu adalah transportasi penting bagi sebuah pemimpin negara ketika harus melakukan perjalanan ke luar negeri.

Sayangnya, hingga detik ini bangsa Indonesia belum memiliki pesawat pengangkut kepresidenan sebagai sarana transportasi khusus orang nomor satu dan dua negeri ini. Kondisi itu tentu membuat kerja presiden dan wapres repot dan juga tidak efisien ketika harus melawat ke luar negeri.

Bukti terbaru munculnya hambatan bagi negeri ini yang tidak mempunyai pesawat khusus untuk mengangkut pemimpin negeri ini adalah ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berkunjung ke luar negeri. Sebagaimana kita tahu, di samping menghadiri pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) pemimpin Negara Group 20 (G-20), presiden juga mengunjungi beberapa negara Amerika Utara dan Latin, macam Meksiko, Brasil, dan Peru.

Bukan masalah kunjungannya SBY mampir ke banyak negara yang menjadi persoalan, melainkan perjalanan orang nomor satu di negeri ini selama perjalanan keliling dunia yang dirasa tidak efektif karena harus sering transit di setiap negara. Hal itu bukan terjadi kebetulan dan dijadwalkan protokoler negara, namun karena pesawat yang ditumpangi SBY dan rombongan bukanlah pesawat yang dirancang khusus untuk menempuh perjalanan jauh. Sehingga sang “burung besi” yang di dalamnya berisi orang-orang penting di negeri ini tidak bisa terbang bebas di angkasa.

Bayangkan, setelah selesai melakukan pertemuan KTT G-20 di Washington DC, Presiden SBY masih harus melakukan pertemuan puncak dengan seluruh pemimpin negara anggota APEC di Peru. Tetapi, untuk menuju ke Lima, tempat diselenggarakannya pertemuan itu, pemimpin negeri ini tidak bisa langsung menuju ke ibu kota negara Peru tersebut.

Pasalnya, pesawat yang ditumpangi rombongan Presiden SBY, bukanlah pesawat yang dirancang sanggup mengudara lama membelah awan. Sehingga, mau tidak mau rombongan yang ada dalam pesawat harus rela mampir ke Meksiko terlebih dahulu, yang dilanjutkan transit di Brasil, sebelum sampai di Peru.

Kita tentu patut menyayangkan jika hingga saat ini Presiden Republik Indonesia (RI) harus menyewa pesawat setiap akan melakukan kunjungan ke luar negeri. Sudah saatnya pemerintah menganggarkan dana untuk membeli pesawat khusus kepresidenan sebagai upaya meningkatkan martabat bangsa. Sehingga citra Indonesia tidak dipandang remeh bangsa asing.

Sudah saatnya negara Indonesia memiliki pesawat kepresidenan. Bukan bermaksud untuk gagah-gagahan atau sekadar menyenangkan Presiden, namun hal itu adalah sebuah kebutuhan mendesak yang harus segera direalisasikan. Lagi, jika punya pesawat khusus sendiri juga bukan bisa dipakai presiden periode selanjutnya.

Karena itu, Indonesia harusnya mencontoh Amerika Serikat yang memiliki pesawat Air Force 1 yang didesain khusus sebagai pesawat yang ditumpangi presiden. Sehingga ketika harus berkunjung ke luar negeri, Presiden RI nantinya tidak perlu repot transit di berbagai negara.

Erik Purnama Putra

Aktivis Pers Kampus Bestari UMM, Gedung SC Lt.1 Bestari UMM

erikeyikumm@yahoo.co.id

Pentingnya Pengembangan Energi Alternatif

Posted in Uncategorized on November 20, 2008 by erikpurnama

Citizen Journalism, Jumat, 21 November 2008 (Koran Merdeka)

Jakarta, merdekainteraktif.com. Harga bahan bakar minyak (BBM) yang pernah melonjak tinggi hingga mencapai US$147 per barel pada bulan Juli lalu membawa konsekuensi tersendiri bagi bangsa ini. Meskipun sekarang harganya sudah anjlok di kisaran US$60-an per barel, namun menyikapi keadaan itu bukan berarti Indonesia sudah merasa aman. Pasalnya, jika sewaktu-waktu harga BBM melambung lagi, pemerintah bakal kelimpungan dan masyarakat yang akhirnya harus menanggung beban berat karena harga premium, solar, dan minyak tanah sangat mahal.

Indonesia yang saat ini menjadi negara pengimpor bersih (net importir) sudah tidak bisa lagi memandang remeh masalah BBM. Pasalnya, di samping sebagai untuk memenuhi kebutuhan kendaraan bermotor masyarakat, BBM juga dijadikan tulang punggung penyuplai sebagian besar pembangkit listrik milik Perusahaan Listrik Negara (PLN), yang masih menggunakan bahan bakar sebagai penggerak turbin agar menghasilkan listrik.

Sangat disayangkan sekali, Indonesia yang memiliki potensi alam yang berlimpah ternyata harus menanggung beban berat akibat belum mampunya bangsa ini memanfaatkan kekayaan sumber daya alam (SDA) yang disediakan alam. Padahal jika pemerintah memiliki political will yang kuat, Indonesia bisa mandiri dalam hal energi dan tidak bergantung pada pembangkit listrik berbasis bahan bakar.

Jika pemerintah mau memanfaatkan kekayaan alam yang ada di bumi Indonesia, bukan tak mungkin Indonesia malah menjadi negara yang berlebih dalam hal pasokan energi. Misalnya pemerintah mau membuat pembangkit listrik yang berbasis tenaga panas bumi, tentu pemerintah tak perlu mengeluarkan dana dalam jumlah yang banyak untuk menyubsidi PLN, yang digunakan untuk membeli bahan bakar guna menggerakkan generator listriknya.

Belum lagi jika PLN mampu membuat pembangkit listrik dengan menyerap energi tenaga surya, tenaga angin, air, biogas, bahkan tenaga nuklir. Sehingga pemerintah, dalam hal ini PLN tak akan menghadapi kesulitan bahan baku dalam menyiapkan listrik bagi masyarakat. Sementara uang subsidi negara yang harus dikeluarkan untuk membayar bahan bakar bisa dialihkan kepada sektor lain yang lebih membutuhkan.

Sudah saatnya bagi pemerintah (PLN) untuk mengembangkan pembangkit listrik alternatif di luar pembangkit listrik minyak bumi maupun batu bara. Karena apabila terus-terusan masih memakai pembangkit yang digerakkan dari kekayaan alam yang tak dapat diperbaharui, ke depannya Indonesia akan kesulitan dalam menyediakan listrik untuk masyarakat.

Indonesia yang pernah disebut sebagai tempat surganya bumi ini karena segala kekayaan alam ada di perut bumi Indonesia tak ada salahnya jika harus membuat perencanaan matang dalam hal penyediaan listrik. PLN jangan tergantung lagi kepada pembangkit listrik minyak bumi dan batubara. PLN harus beralih memanfaatkan potensi SDA yang ada di Indonesia.

Pengembangan pembingkit listrik alternatif yang berbasis pemanfaatan alam mutlak harus dilakukan jika tak ingin Indonesia mengalami krisis energi. Lagian membangun pembangkit listrik energi alternatif dalam perjanalan ke depannya tak memerlukan ongkos yang banyak dalam segi pembiayaan. Dan Indonesia bisa terhindar dari krisis energi jika harga minyak dunia melambung seperti saat ini.

Sebab dengan mengembangkan energi alternatif di samping biayanya yang lebih murah, juga karena material yang dibutuhkan semuanya sudah tersedia di Indonesia. Jadi yang dibutuhkan cuma penguasaan teknologi saja. Dan itu bukan masalah lagi bagi Indonesia, karena kualitas manusia Indonesia sudah cukup paham dengan teknologi kelistrikan.

Pemerintah diharapkan segera bertindak cepat dan mengkonversi setiap pembingkit listrik yang masih menggunakan bahan bakar sebagai penggerakknya, karena agar dikemudian hari apabila harga minyak dunia tak terkendali, Indonesia aman dari ancaman krisis energi. Kita tunggu saja tindakan pemerintah setelah ini.

Pengirim
Erik Purnama Putra

Aktivis Pers Kampus Bestari UMM

erikeyikumm[at]yahoo.co.id

Wajah Bopeng Sepakbola Indonesia

Posted in Uncategorized on November 19, 2008 by erikpurnama

Suara Konsumen, Rabu, 19 November 2008 (Surabaya Post)

Untuk memajukan dunia sepakbola Tanah Air, mulai tahun ini Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) menyelenggarakan Indonesian Super League (ISL) sebagai ajang kompetisi kasta tertinggi di Indonesia. Tujuan diselenggarakan ISL adalah untuk meningkatkan kualitas sepakbola Indonesia dengan menggunakan format kompetisi penuh yang diikuti 18 klub.

Sebelum kompetisi dimulai, setiap klub peserta wajib memenuhi semua syarat yang ditentukan Badan Liga Indonesia (BLI) sebagai institusi yang dibentuk PSSI untuk menyelenggarakan kompetisi ISL, mulai dari infrastruktur, personil, administrasi, legalisasi, hingga finansial. Semua syarat itu harus dipenuhi setiap klub perserta jika berniat mengikuti sistem kompetisi penuh.

Seiring berjalannya waktu, roda kompetisi mengalami banyak masalah yang membuat pagelaran ISL menjadi tercoreng. Liga profesional yang digadang-gadang BLI mampu menghasilkan pertandingan bermutu itu kini tak ubahnya seperti pertandingan sepakbola antarkampung (tarkam), yang disebabkan munculnya berbagai kasus memalukan yang terjadi di tengah perjalanan kompetisi, baik di dalam maupun luar lapangan.

Kasus pemukulan wasit oleh pemain (asing maupun lokal) sering terjadi, adu jotos antarpemain berungkali terjadi, dan kerusuhan penonton hingga memakan korabn jiwa terus berlangsung, serta seringnya BLI mengubah jadwal bertanding klub seenaknya sendiri membuat perjalanan kompetisi profesional Tanah Air ini menjadi sangat semrawut.

Yang terakhir kasus manajer PSIS, Yoyok Sukawi, yang mengejar dan ingin memukul wasit karena merasa tidak puas dengan kepemimpinan dengan korps pengadil lapangan itu adalah salah satu simpul kecil ruwetnya perjalanan kompetisi ISL.

Belum lagi masalah peraturan manual yang menjadi dasar menyelenggarakan kompetisi yang dibuat ternyata di sisi lain direvisi sendiri oleh BLI semakin membuat perjalanan ISL menjadi kacau dan penuh anomali. Buktinya, sekarang banyak klub yang terancam berhenti mengikuti kompetisi karena dibelit krisis finansial. Pasalnya, klub tidak mempunyai pemasukan yang cukup sebagai modal membayar gaji pemain yang sangat tinggi.

Di sisi lain, dana hibah yang dianggarkan APBD tidak bisa dicairkan karena pemerintah daerah takut melanggar aturan yang berlaku. Sehingga banyak klub yang terancam bangkrut dan keluar dari kompetisi karena tidak sanggup menjalani kompetisi yang memakan biaya besar itu. Karena itu, gebyar kompetisi yang dicitrakan sukses dan semarak ketika pembukaan mulai terungkap bobroknya.

Hal itu terjadi karena BLI tidak melakukan verifikasi secara ketat terhadap setiap klub, sehingga klub yang tidak memiliki kemampuan finansial cukup bisa lolos mengikuti event ISL. Hasilnya bisa dilihat saat ini, di mana kualitas kompetisi ISL tidak ubahnya seperti pertandingan tingkat antarkampung (tarkam). Dan itu sangat jauh dari tujuan awal diselenggarakannya ISL, di mana diharapkan dapat melahirkan banyak bintang sepakbola dan kualitas sepakbola Indonesia secara keseluruhan bisa meningkat.

Konsep blue print ISL yang direncakan BLI sebenarnya layak diapresiasi. Sayangnya, sikap BLI yang lembek dalam menyikapi segala permasalahan yang muncul, yang berkaitan dengan perjalanan kompetisi ISL membuat kualitas kompetisi sangat buruk.

Harapan untuk memajukan sepakbola Indonesia sekarang hanya sebatas angan-angan jika melihat realita di lapangan. Sehingga penyelenggaraan kompetisi sepakbola oleh BLI terkesan jalan di tempat, yang dibarengi dengan kasus kerusuhan yang terus meningkat tanpa pernah menghasilkan prestasi membanggakan sedikit pun. Karena itu, kompetisi ISL hanya bagus di nama, sementara kualitas kompetisinya sendiri layak mendapatkan rapor merah.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa Psikologi UMM

Gedung SC Lt.1 Bestari UMM

erikeyikumm@yahoo.co.id