Archive for the Warteg Category

Mengembangkan Industri Kreatif

Posted in Warteg on Agustus 20, 2009 by erikpurnama

Jumat, 7 Agustus 2009 (Surya)

DI saat krisis ekonomi global belum berlalu, geliat ekonomi Indonesia tetap berjalan dan tumbuh. Salah satunya didukung oleh berkembangnya industri kreatif yang keberadaannya mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.

Untuk diketahui, industri kreatif merupakan kumpulan subsektor industri yang bergerak di bidang periklanan, kerajinan, seni pertunjukan, film (movie), video dan fotografi, televisi dan radio, arsitektur, desain (interior), musik, layanan komputer, fashion, pasar barang seni, permainan interaktif, penerbitan dan percetakan, serta penelitian dan pengembangan.

Semua sektor industri kreatif dapat tumbuh pesat dan tak terpengaruh resesi global yang di saat bersamaan menghantam sektor industri ekspor dan hasil tambang. Tak ada salahnya, pemerintah memperhatikan industri tersebut agar ke depannya dapat semakin berkontribusi bagi peningkatan perekonomian negara.

Sepanjang 2004-2008, sumbangan industri kreatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) rata-rata 6,3 persen. Apalagi, jika memasukkan produksi usaha kecil menengah (UKM) dan industri rumah tangga, kontribusi industri kreatif terhadap PDB mencapai 8 persen. Sebuah angka cukup besar dan perlu diperhitungkan pula sebab sektor itu pada 2006 berjumlah 5,4 juta unit usaha dan mempekerjakan jutaan orang yang menggantungkan hidupnya di situ.

Dalam rancangan Kadin, diproyeksikan dalam jangka panjang industri kreatif diharapkan mampu menyumbang sampai 11 persen PDB Indonesia. Mau tidak mau, diperlukan political will pemerintah untuk memperhatikan sektor industri itu. Selain mampu bertahan di masa sulit, keberadannya dapat menyerap banyak tenaga kerja hingga membuat pengangguran berkurang.

Berangkat dari itu, baik kiranya pemerintah mendengarkan aspirasi para pegiat industri kreatif yang menyeru untuk diberikan keringanan insentif pajak melalui program pengurangan biaya penelitian dan pengembangan. Dipastikan, jika dilaksanakan, daya saing industri kreatif dalam negeri akan lebih baik dan mampu bersaing dengan produk negara maju.

Penghapusan pajak ganda juga diperlukan agar industri kreatif dapat lebih berkibar dalam
mengembangkan sayapnya. Kondisi itu tak boleh ditawar lagi oleh pemerintah sebab dalam road map Departemen Perindustrian 2025, disebutkan industri kreatif diupayakan menjadi pilar keempat perekonomian nasional, yang keberadaannya bakal menemani sektor pertanian, industri dan jasa.

Mulai sekarang seyogianya kebijakan yang dikeluarkan pemerintah sudah harus terintegrasi dan memberikan keleluasaan bagi industri kreatif untuk dapat berkembang dan berinovasi supaya tetap eksis mengangkat ekonomi bangsa.

Oleh Erik Purnama Putra
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

Iklan

Ketika Mahasiswa Terjun ke Masyarakat

Posted in Warteg on April 17, 2009 by erikpurnama

Surya, Sabtu 31 Januari 2009, (Warteg)

Banyak orang beranggapan bahwa mahasiswa bisanya cuma ahli dalam bidang teori dan berbagai kegiatan akademik. Hal itu dapat dimaklumi mengingat mahasiswa hanya mendapatkan proses belajar mengajar di kelas dari dosen.

Tetapi jangan salah. Pendapat di atas belum tentu benar sepenuhnya. Hal itu jika berpatokan pada kegiatan mahasiswa di bidang Kuliah Kerja Nyata Terpadu (KKN-T) yang diselenggarakan Lembaga Pengabdian Masyarakat Universitas Muhammadiyah Malang (LPM-UMM). Dinamakan terpadu karena kelompok KKN yang berjumlah 30 orang terdiri beragam mahasiswa yang berlainan fakultas yang ada di UMM. Tujuan kegiatan KKN adalah mahasiswa sepenuhnya mengabdikan diri pada masyarakat selama kurang lebih sebulan, yaitu 20 Januari – 17 Februari 2009.

Sebagai salah satu anggota KKN-T Kelompok 19, saya juga terlibat langsung dalam proses kegiatan pengabdian masyarakat. Bertempat di Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Kelompok 19, melaksanakan berbagai program yang sudah dirancang dengan target masyarakat setempat yang membutuhkan bantuan sesuai dengan kegiatan yang sudah didesain.

Mengingat Desa Tumpang sudah tergolong maju dan padat penduduk, maka program yang dibuat disesuaikan kondisi masyarakat. Karena Kelompok 19, tidak ingin kegiatan yang dibuatnya menjadi sia-sia dan kurang mengena di masyarakat. Karena itu, dibuat beberapa program, misalnya Program Pendidikan, Kesehatan, Kewirausahaan, dan Ekonomi Sosial Budaya. Program dibuat tidak asal-asalan, sebab sebelum datang ke Tumpang, Kelompok 19 sudah mengorbservasi terlebih dahulu demografi masyarakat setempat. Sehingga dimungkinkan semua program yang dibuat Kelompok 19 bisa memberikan sumbangsih signifikan terhadap peningkatan potensi dan sumber daya manusia warga Tumpang.

Meskipun belum semua program selesai dilaksanakan mengingat masih setengah perjalanan. Namun, sudah beberapa kegiatan yang sudah dijalankan Kelompok 19. Contohnya, dalam Program Kesehatan, beberapa mahasiswa ikut membantu pemberdayaan petugas Posyandu dalam memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat, teruatama balita, lansia, dan ibu hamil atau sesduah melahitkan.

Tak hanya itu. Kelompok 19 juga akan melaksanakan kegiatan pengobatan gratis kepada 100 warga tidak mampu. Sementara masyarakat sekitar bisa mengikuti pemeriksaan kesehatan (check up) telinga, hidung, tenggorokan, mata, dan mulut, secara gratis. Kegiatan ini dilaksanakan mengingat dalam Kelompok 19, ada tiga mahasiswa Kedokteran. Sehingga dengan dibantu tambahan Tenaga Bantuan Media Mahasiswa (TBMM) dari Fakultas Kedokteran UMM, pelaksanaan kegiatan bisa berlangsung sukses.

Sementara, program lainnya tidak kalah menarik. Ada pelatihan kewirausahaan dengan mengundang praktisi dari pemilik Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UKMK), try out mata pelajaran Bahasa Inggris pada siswa sekolah dasar, gerak jalan sehat, dan bakti sosial dengan ikut melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan warga Tumpang.

Semua kegiatan itu dilakukan Kelompok 19 KKN-T dengan harapan agar mahasiswa yang selama ini cuma bergiat di kampus bisa lebih mempunyai pengalaman agar ketika nanti terjun ke masyarakat bisa beradaptasi karena punya pengalaman hasil dari kegiatan KKN. Meskipun melelahkan, tetapi semua itu dijalankan anggota Kelompok 19 dengan penuh keikhlasan. Dan hebatnya, masyarakat menyambut baik semua program itu.

Erik Purnama Putra

Pegiat Pers Kampus UMM

Spirit Motivasi

Posted in Warteg on Januari 5, 2009 by erikpurnama

Warteg, Rabu, 31 Desember 2008 (Surya)a-mothers-love

Setiap tanggal 22 Desember, Negara Indonesia selalu memperingati Hari Ibu. Datangnya Hari Ibu sepatutnya dijadikan semangat tersendiri bagi kaum wanita, terutama sosok ibu dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Pasalnya, dari waktu ke waktu, sosok ibu dan wanita peranannya semakin penting dan memberikan dampak signifikan bagi terciptanya tatanan sosial masyarakat.

Sekarang, banyak kalangan berpendapat, kemajuan wanita merupakan keniscayaan bagi terselenggaranya kehidupan negara yang lebih baik. Karena itu, setiap wanita harus terbakar dan menyiapkan dirinya untuk menjadi sosok panutan anaknya supaya bisa menghasilkan generasi berkualitas dalam menyambut Hari Ibu.

Jika selama ini peran ibu lebih banyak hanya pada tataran domestik (dapur, kasur dan sumur). Sudah saatnya sekarang porsi wilayah ibu untuk dapat berperan lebih dibanding sekedar hanya pada tataran itu. Sehingga yang dapat dilakukan adalah dengan menunjukkan dirinya bukan lagi sebagai wanita lemah yang perlu dikasihani dan diberi bantuan. Namun harus mengupayakan agar dirinya bisa menjadi pribadi mandiri dan tegar dalam menghadapi segala cobaan hidup.

Memang tidak perlu sampai harus menggelorakan semangat emansipasi wanita dan gerakan feminisme yang menuntut adanya kesetaraan gender. Karena memang pada dasarnya wanita dan pria diciptakan Tuhan berbeda. Karena itu, wanita, khususnya ibi, wajib menunjukkan sisi keintelektualitasnya supaya lebih dari cukup untuk menjadi sosok ibu panutan.

Peringatan Hari Ibu hendaknya juga perlu dijiwai dan diaplikasikan dalam setiap kehidupan, bukan sekedar ritual peringatan belaka. Pasalnya, yang penting pada peringatan Hari Ibu adalah harus bisa memberikan manfaat penting bagi peningkatan kaum wanita dalam berbagai bidang kehidupan.

Di samping itu, peringatan Hari Ibu harus dijadikan kekuatan spirit mendongkrak motivasi kaum wanita supaya bisa lebih baik dari sebelumnya. Jika selama ini kaum hawa terpinggirkan dan seolah hanya menjadi pelengkap kaum pria. Dengan perayaan Hari Ibu, kaum wanita harus mampu menunjukkan eksistensi dirinya supaya bisa lebih baik dari segi kualitas.

Seperti yang diutarakan Menteri Pemberdayaan Wanita RI, Meutia Hatta, yang berharap dengan peringatan datangnya Hari Ibu ke-80, kaum perempuan dapat menyadari perjuangan yang harus dilakukan untuk menghadapi masa globalisasi. Dengan menjadi pribadi berkualitas setidaknya kaum wanita harus dapat memberi perubahan dan warna baru terhadap perjalanan bangsa.

Meski sulit, tetapi jika ada semangat besar dari kaum wanita, hal itu bukanlah sekedar mimpi belaka untuk bergerak maju merealisasikannya.  Karena itu, jalan satu-satunya adalah dengan mengharapkan datangnya kreativitas yang tidak biasa dari kaum perempuan.

Karena apalah artinya peringatan Hari Ibu jika hanya dijadikan ritual belaka. Jangan sampai peringatan berhenti sampai di situ. Pasalnya, masih banyak masalah yang belum terselesaikan seputar kaum Hawa. Perempuan jangan hanya menjadi penonton belaka. Setiap lini kehidupan sebenarnya membutuhkan sosok perempuan sebagai penyeimbang dominasi laki-laki supaya tercipta kehidupan harmonis.

Erik Purnama Putra

Anggota UKM FDI UMM

erikeyikumm@yahoo.co.id

Melirik Sektor Bahari

Posted in Warteg on Desember 11, 2008 by erikpurnama

INDONESIA bisa jaya jika melirik sektor kelautan. Karena terbukti, kebijakan pemerintah masa lalu yang berorientasi pada daratan tidak mampu mengangkat kesejahteraan masyarakat Indonesia. Jalan satu-satunya yang musti dilakukan pemerintah adalah mengoptimalkan potensi bahari yang menyimpan segudang kekayaan laut.

Kalimat di atas adalah rangkuman orasi ilmiah yang diutarakan Menteri Kelautan dan Perikanan, Freddy Numberi, kepada wisudawan Universitas Muhammadiyah Malang, akhir pekan lalu di Kampus III UMM ketika menjadi tamu undangan.

Kekayaan laut yang tidak terkira jumlahnya masih sangat sedikit yang sudah dimanfaatkan bangsa Indonesia, khususnya nelayan. Malahan, kekayaan yang terkandung di dasar lautan lebih banyak dinikmati nelayan asing secara ilegal.

Tengok saja, bagaimana nelayan negeri tetangga yang dengan seenaknya menguras sumber daya laut, terutama praktik illegal fishing yang masuk wilayah Indonesia.
Nelayan Indonesia belum bisa berbuat banyak menikmati kekayaan lautnya sendiri akibat kurangnya pemahaman tentang kondisi kelautan di wilayahnya.

Di samping kendala peralatan sederhana dan kurang adanya dukungan dari pemerintah yang tidak menjadikan sektor bahari sebagai basis pembangunan bangsa, yang membuat nelayan menjadi penonton di negeri sendiri.

Padahal, seluruh wilayah negara Indonesia yang berupa daratan hanya sepertiga. Yang lainnya berupa lautan luas yang menyimpan kekayaan laut tiada terkira. Namun, selama ini kebijakan pemerintah memang masih berkutat pada daratan dan melupakan bidang kemaritiman.

Sehingga membuat Indonesia yang dikarunia kekayaan hayati laut yang serba melimpah tidak terurus dan bangsa ini menjadi tertinggal dibanding negara lainnya.

Karena itu, sebelum makin tertinggal jauh dari negeri tetangga, sudah selayaknya pemerintah berubah arah untuk mengembangkan sektor bahari sebagai penopang utama pembangunan perjalanan bangsa.

Pasalnya, jika bangsa Indonesia beralih kepada bidang kemaritiman, diyakini Tanah Air bisa jaya dan masyarakat bisa hidup lebih sejahtera dibanding generasi sebelumnya

Terbukti, zaman dulu kerajaan nenek moyang bangsa Indonesia pernah menjadi besar dan disegani bangsa lainnya. Pasalnya, orang dulu menjadikan kelautan sebagai basis membangun bangsa.

Dari segi geografis, bangsa Indonesia sudah jelas jika termasuk sebagai negara lautan. Pasalnya, dari ujung barat ke timur kepulauan Indonesia yang berjejer tersebut satu sama lainnya dibatasi selat yang membentuk sebuah lautan.

Tidak dapat dimungkiri jika Indonesia adalah negara maritim. Pertambahan penduduk yang semakin besar membawa dampak pada meningkatnya kebutuhan makanan masyarakat Indonesia.

Sayangnya, semakin sempitnya luas daratan yang menjadi lahan produktif tanaman membuat jumlah makanan menjadi tidak sebanding dengan kebutuhan. Jalan satu-satunya adalah memanfaatkan potensi laut yang belum banyak digarap masyarakat Indonesia.

Jika nanti bangsa Indonesia sudah bisa berkiblat pada sektor kemaritiman, Freddy yakin bangsa ini bisa menjadi negara maju dan mampu berjaya di antara negara dunia lainnya.
Hanya dengan concern meningkatkan sektor kelautan sebagai basis menciptakan kemakmuran masyarakat, bangsa Indonesia bisa berdiri tegak dan dipandang dunia.

Oleh Erik Purnama Putra

Anggota UKM FDI UMM

http://www.erikpurnama.wordpress.com

Jatim Provinsi Tertinggal

Posted in Warteg on November 4, 2008 by erikpurnama

Sabtu 1 November 2008 (Surya)

Pendidikan adalah modal dasar bagi pondasi membangun bangsa. Tetapi, ternyata itu belum menjadi komitmen pemerintah daerah (pemda) itu sendiri. Banyaknya hambatan yang terjadi di dunia pendidikan harus segera diatasi guna mendorong terciptanya kemajuan bangsa.

Salah satu masalah urgent yang berkaitan dengan dunia pendidikan dan belum ada perhatian khusus dari pemda adalah masih banyaknya masyarakat yang buta huruf dan tak mengenyam pendidikan formal.

Jawa Timur penyumbang masyarakat buta aksara tertinggi di Indonesia. Seperti data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2007, jumlah penduduk buta aksara Jatim mencapai 4,5 juta atau 29,02 persen dari total jumlah penduduk buta aksara di Indonesia. Sebagai provinsi penyumbang terbanyak masyarakat yang buta aksara perlu segera dilakukan evaluasi sistem pendidikan dengan memberikan pendidikan non formal bagi penduduk. Jatim menjadi provinsi tertinggal dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Calon gubernur (cagub) dan wakil Jatim yang bertarung di putaran dua nanti (4/11) harus memperhatikan masalah itu. Alokasi anggaran APBD nanti harus dibuat pro dengan sektor pendidikan. Karena dunia pendidikan sedang menanti komitmen cagub Jatim yang akan membangun Jatim dengan fondasi pendidikan. Tak ada alasan bagi gubernur terpilih nantinya untuk tidak memperhatikan pendidikan bagi masyarakat Jatim.

Sayangnya, sampai saat ini saya masih belum melihat ada janji manis yang dimasukkan dalam visi misi setiap cagub dan wakilnya nanti yang akan memenuhi amanat konstitusi dan memberantas buta aksara masyarakat Jatim. Para cagub lebih berkonsentrasi memperhatikan pembangunan fisik dan banyak alokasi dana yang dianggarkan untuk sektor lainnya.

Menyikapi kondisi itu, apakah pemda tidak malu menyandang gelar sebagai provinsi yang terbanyak menyumbang masyarakat buta aksara di tingkat nasional? Padahal sebagai provinsi yang diperhitungkan seluruh provinsi lainnya, Jatim harusnya mampu lebih baik dalam menyelenggarakan dunia pendidikan non formal guna mengentaskan buta aksara.

Pembangunan fisik di tiap kota Jatim tak akan ada artinya bila masih banyak masyarakat yang tak bisa membaca. Kita tunggu saja komitmen dari beberapa cagub yang akan maju dalam Pilgub 2008 nanti. Apakah mereka akan rela memotong anggaran untuk dialokasikan untuk dunia pendidikan demi mengejar kualitas SDM yang baik melalui pendidikan. Ataukah malah lebih mementingkan pembangunan fisik semata.

Saya yakin apabila jumlah penyandang buta aksara masyarakat Jatim menurun, maka kualitas SDM Jatim akan meningkat dan pembangunan dapat dengan cepat ditingkatkan. Kita hanya bisa menunggu komitmen cagub terpilih nanti untuk merealisasikan agenda pengentasan buta aksara masyarakat Jatim.

Oleh Erik Purnama Putra

Aktivis Pers Kampus Bestari UMM

erikeyikumm@yahoo.co.id

Laskar Jempolan dari Pedalaman

Posted in Warteg on Oktober 16, 2008 by erikpurnama

Thursday, 16 October 2008 (Surya)

Sudah sangat lama dunia perfilman Indonesia tidak memunculkan film berkualitas, hingga akhirnya muncul Laskar Pelangi. Film yang diadaptasi dari novel karya Andrea Hirata tersebut menyedot perhatian masyarakat Indonesia.

Buktinya, 10 hari pertama setelah diluncurkan mampu menyedot sejuta penonton lebih. Kondisi itu bahkan sampai membuat sang produser, Mira Lesmana, tidak percaya dengan jumlah penonton yang telah melihat film yang bergenre pendidikan itu.
Padahal sebagai film yang notabene tidak mengikuti mainstream yang sedang laku tentu tidak ada yang memprediksi film ini bisa mendulang sukses besar. Selama ini film yang diputar di bioskop dan sukses diterima masyarakat sebagian besar berkisah seputar dunia percintaan, misteri atau horor, dan komedi. Jika ada produser yang nekat bikin film di luar genre itu pasti bakal bangkrut karena tak laku.

Namun, kehadiran Laskar Pelangi mampu mematahkan mitos film tentang dunia pendidikan tak laku. Apakah itu berarti masyarakat Indonesia sudah jenuh dengan film yang bertemakan itu-itu saja atau memang masyarakat butuh sebuah film yang isinya berkualitas dan mencerdaskan.

Jika kita sudah menonton film Laskar Pelangi di bioskop pasti kita terbawa ke dalam alur cerita dan tanpa disadari telah terhanyut dalam suasana dalam film tersebut. Saya sendiri telah mengalaminya. Hal itu terjadi karena menurut saya film itu mampu menyuguhkan sebuah alur cerita yang logis dan mencerahkan pikiran.

Film yang mengisahkan perjuangan sepuluh murid yang sekolah di SD Muhammadiyah di daerah pedalaman Belitong, yang mempunyai tekad kuat untuk tetap belajar itu sungguh menginspirasi. Ditambah dengan perjuangan Ibu Guru Muslimah yang membimbing anak didiknya agar bisa memahami proses belajar mengajar, walaupun sekolahnya seperti seperti kandang hewan yang hampir rubuh.

Itu bentuk sempurna pengabdian seorang guru yang bisa dijadikan teladan. Dia mengajar bukan atas dasar materi, melainkan murni pengabdian demi memberikan transfer ilmu kepada murid.

Di sisi lain, yang membuat film itu patut dikagumi adalah isinya yang sangat jujur dan tidak dibuat-buat sebab diperankan langsung anak kecil dari desa Belitong sendiri.

Tidak seperti film kebanyakan yang menampilkan banyak kisah yang di luar realita dan bertabrakan dengan logika, serta akting pemainnya yang terkesan dipaksakan. Tak salah kan jika saya menyebut Laskar Pelangi memang berkualitas.

Oleh

Erik Purnama Putra

Aktivis Pers Koran Kampus Bestari UMM

erikeyikumm@yahoo.co.id

Bertemunya Sarjana Mengganggur

Posted in Warteg on September 24, 2008 by erikpurnama

Tuesday, 23 September 2008 (Surya)

Meskipun seseorang lulusan sebuah perguruan tinggi terkenal dengan nilai tinggi, namun tidak menjamin orang itu bisa langsung mendapatkan pekerjaan selepas kuliah.

Indonesia adalah negeri tempat pengangguran intelektual berkumpul. Anggapan itu benar adanya. Kondisi itu saya rasakan betul ketika ditunjuk pihak kampus untuk menjadi salah satu panitia kegiatan job fair (bursa kerja) yang diadakan Universitas Muhammadiyah Malang bulan lalu.

Saya menjadi ngeri melihat banyaknya pencari kerja di acara bursa kerja tersebut. Bayangkan, banyak sekali pengunjung yang sebagian besar lulusan S1 dan datang ke acara itu dengan satu tujuan, ingin mendapatkan pekerjaan. Saya miris membayangkan jika nanti hal itu menimpa saya ketika lulus dan mendapatkan gelar sarjana.

Cepat atau lambat seusai menempuh kuliah, saya pun pasti akan menghadapi kenyataan saat memasuki dunia kerja yang persaingannya keras. Sehingga tak salah meskipun sudah mendapatkan gelar sarjana, tetapi hal itu bukan jaminan bagi seseorang untuk mendapatkan pekerjaan.

Acara bursa kerja seolah menjadi magnet yang mampu menarik banyak pengangguran intelektual untuk datang berkumpul dengan bersama-sama mencari pekerjaan. Pengunjung yang mencapai ribuan berkompetisi dengan pengunjung lainnya untuk mencari lowongan kerja di setiap gerai perusahaan yang sedang mencari karyawan dan berharap mendapatkan pekerjaan. Tak hanya dari wilayah Malang, banyak juga pengunjung dari luar provinsi Jawa Timur dan bahkan luar pulau.

Berbekal surat lamaran dan ijazah di tangan, mereka berbondong-bondong datang melihat-lihat lowongan pekerjaan yang di tempel di setiap gerai perusahaan. Melihat kejadian itu teman panitia lainnya sempat bercanda dan berujar bahwa acara bursa kerja seolah menjadi ajang berkumpulnya sarjana pengangguran.

Ternyata meskipun seseorang lulusan sebuah perguruan tinggi (PT) terkenal dengan nilai tinggi, namun tidak menjamin orang itu bisa langsung mendapatkan pekerjaan selepas kuliah. Misalnya, ada job seekers (pencari kerja) alumnus sebuah perguruan tinggi terkemuka di Indonesia yang masih menganggur, padahal sudah hampir tiga tahun dia meraih gelar sarjana.

Sebuah fakta mencengangkan. Bisa jadi karena terlalu pilih-pilih pekerjaan atau memang belum pernah lolos dalam seleksi pekerjaan. Tetapi satu yang pasti, mereka datang ke bursa kerja dengan mengusung harapan tinggi untuk mendapatkan pekerjaan.

Melihat realita secara langsung ini sempat terbersit kritik untuk pemerintah maupun PT asal pengangguran intelektual tersebut dulu mengenyam bangku kuliah. Pemerintah seharusnya menyediakan lapangan pekerjaan yang banyak sehingga pengangguran intelektual dapat berkurang.

Sebagai tempat menimba ilmu seharusnya PT tidak lepas tangan ketika mahasiswanya sudah lulus dan belum mendapatkan pekerjaan, tetapi harus ikut bertanggung jawab jika lulusannya banyak yang menganggur. Jangan setelah lulus kuliah dan diwisuda PT lepas tangan dan merasa itu bukan tanggung jawabnya lagi.

Oleh

Erik Purnama Putra

Mahasiswa Psikologi UMM