Memerangi Aksi Terorisme

Posted in Keamanan on September 9, 2009 by erikpurnama

Rabu, 12 Agustus 2009 (Surabaya Pagi)

PELEDAKAN hotel JW Marriott dan Ritz Carlton yang dilakukan gembong teroris beberapa waktu lalu menyisakan kisah pilu bagi perjalanan sejarah bangsa ini. Pasalnya, di saat Indonesia sudah mulai dikenal sebagai negara damai dan aman, ternyata teroris melakukan aksi brutal untuk menunjukkan kepada dunia luar bahwa Indonesia ternyata jauh dari kata aman.

Kondisi itu bisa dilihat dari momen peledakan bom yang dilakukan sehari sebelum kedatangan tur klub sepakbola terkenal dari Inggris, Manchester United (MU) yang bakal menjalani pertandingan persahabatan di Gelora Bung Karno melawan Timnas Sepakbola Indonesia. Dengan meledakkan bom di tempat tim MU bakal menginap maka aksi teroris itu mendapatkan sorotan dunia internasional sebab pada saat bersamaan juga datang banyak jurnalis luar negeri yang bakal meliput event pertandingan persahabatan tersebut. Dan betul, setelah Tragedi Mega Kuningan tersebut, peristiwa pengeboman langsung mendapat sorotan dunia internasional. Efeknya, keamanan Indonesia langsung dinilai tidak bagus oleh masyarakat internasional.

Apapun motivasi para teroris, tindakan melakukan kekacauan dengan meledakkan bom di keramaian merupakan tindakan keji dan patut dikutuk. Apalagi dengan dalih menggunakan tameng agama atas nama jihad yang sangat keliru penafsirannya membuat perlu dilakukan sebuah gerakan membasmi terorisme dari bumi Indonesia supaya bentuk kejahatan paling nista tersebut tak terulang kembali di masa yang akan datang.

Untuk saat ini kita perlu mendukung setiap langkah yang diambil Polri dengan melakukan pengejaran teroris beserta pelacakan anggota organisasi yang digawangi Nordin M. Toop. Hal itu supaya kegiatan terorisme dapat dihentikan dan tak lagi menghantui kehidupan masyarakat Indonesia. Mengingat jika terorisme masih berkembang maka keamanan negeri ini tetap dalam bahaya. Dan tidak enaknya negara lain akan menilai Tanah Air sebagai negara hitam tempat berkembangnya kegiatan terorisme.

Jika tidak ingin keadaan itu terjadi maka masyarakat dapat proaktif membantu pihak berwajib dengan melaporkan siapapun orang yang mencurigakan atau ada kegiatan yang di luar kewajaran yang berpotensi menimbulkan gangguan sebab dari situlah organisasi teroris berkembang dan melakukan gerakan. Pasalnya jika masyarakat juga mengawasi keamanan lingkungan sekitar maka gerak dan tumbuhnya organisasi terorisme dapat dicegah dan didetiksi sedini mungkin.

Cara itu sangat efektif dan merupakan salah satu yang bisa dilakukan. Tindakan mencegah lebih baik daripada memburu dan menangkapi anggota jaringan teroris. Menjadikan terorisme musuh bersama juga akan menciptakan lingkungan kondusif dan masyarakat bisa waspada dengan segala kegiatan yang tak lazim dengan langsung melaporkannya kepada Polri.

Untuk itu, masyarakat wajib bahu-membahu memberikan dukungan maksimal kepada aparat yang terus berupaya membongkar jaringan terorisme yang sudah berkembang di Indonesia. Jaringan Islamiyah harus dilenyapkan agar keamanan negeri ini bisa dipulihkan dan kepercayaan dunia internasional dapat tumbuh kembali.

Erik Purnama Putra
Pegiat Pers Kampus Bestari UMM
Gedung Student Center Lt.1 Bestari Kampus III UMM

Iklan

Masyarakat Mengadopsi Budaya Barat

Posted in Humaniora on September 9, 2009 by erikpurnama

Senin, 10 Agustus 2009 (Jurnal Nasional)

SALAH satu tantangan berat yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini adalah serbuan budaya barat yang sangat massif menyerang adat ketimuran masyarakat Indonesia. Padahal kondisi itu berakibat pada menurunnya nilai-nilai yang tertanam pada masyarakat, yang berimplikasi pada pudarnya semangat menjaga identitas bangsa. Hal itu tercermin pada semakin menipisnya nilai-nilai sosial masyarakat sebagai akibat gencarnya serbuan budaya barat.

Fenomena munculnya gaya berbicara yang serba ceplas-ceplos dan hilangnya unggah-ungguh dalam tata karma di kehidupan masyarakat adalah salah satu cerminan bahwa generasi muda sudah mulai tertular arus budaya barat. Pada bagian lainnya, realita generasi muda yang gemar mengadopsi budaya luar dengan alasan lebih trendi dan percaya diri membawa akibat pada hilangnya jati diri masyarakat ketimuran yang memegang adat sopan dalam artian di segala bidang.

Lihat saja, mulai model pakaian yang serba minim, yang membuka aurat bagi wanita, dan model pierching (tindik), tato, dan celana jins model ketat yang lagi ngetrend semuanya mudah dijumpai di masyarakat. Kondisi itu adalah salah satu ciri pemuda dan mayoritas masyarakat hingga ke pedesaan yang secara tak langsung menggunakan atribut barat dalam kesehariannya. Indikator itu masih ditambah life style pemuda yang gemar mabuk-mabukan ke kafe atau club, dan memamadat di tempat dugem, yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran agama.

Tetapi, semua itu gejala itu sekarang ini hampir ke semua orang hingga pelosok desa. Hal itu mengacu pada gaya hidup masyarakat Indonesia yang sudah terkontaminasi budaya barat akibat secata tak langsung menerapkannya pada kehidupan sehari-hari. Padahal peradaban timur sangat bertentangan dengan barat, tetapi akibat arus informasi yang sedemikian cepatanya dari barat yang terus diiklankan melalui media massa membuat mau tak mau masyarakat Indonesia turut terpengaruh untuk mengikuti gaya hidup orang barat.

Akhirnya, warga Indonesia banyak yang mengikuti arus menerapkan keseharian konsumtif dengan berbelanja pakaian bermerk yang serba mahal, meskipun sebenarnya tidak terlalu memerlukan pakaian itu. Asalkan bisa senang dan tak dikatakan ketinggalan zaman maka membeli barang-barang mahal tidak jadi persoalan. Akibatnya saat ini hedonisme menggejala dan marak dipraktikkan.

Kaum kaya pergi ke mal dan makan di restoran, sedangkan warga desa bergaya seperti orang kota dalam hal berpakaian meskipun kadang jika dilihat tidak pantas dan terkesan memaksakan diri. Semua itu jelas menjadi pegangan bagi saya untuk menilai bahwa bangsa Indonesia sedang sakit sebab masyarakatnya meninggalkan budaya timur dengan beralih kebarat-baratan yang tak sesuai dalam berbagai bidang kehidupan.

Maka itu, diperlukan sebuah upaya penanganan agar fenomena itu tak semakin menggejala dan merusak tatanan norma aturan yang selama ini sudah dijadikan acuan masyarakat. Sehingga saya berharap kepada pemerintah dan pihak terkait supaya memberikan pendidikan kepada masyarakat agar sadar, karena sekarang ini Indonesia sudah dijajah secara tak langsung oleh negara barat melalui budaya gaya hidup.

Erik Purnama Putra
Aktivis Universitas Muhammadiyah Malang

Mengembangkan Industri Kreatif

Posted in Warteg on Agustus 20, 2009 by erikpurnama

Jumat, 7 Agustus 2009 (Surya)

DI saat krisis ekonomi global belum berlalu, geliat ekonomi Indonesia tetap berjalan dan tumbuh. Salah satunya didukung oleh berkembangnya industri kreatif yang keberadaannya mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.

Untuk diketahui, industri kreatif merupakan kumpulan subsektor industri yang bergerak di bidang periklanan, kerajinan, seni pertunjukan, film (movie), video dan fotografi, televisi dan radio, arsitektur, desain (interior), musik, layanan komputer, fashion, pasar barang seni, permainan interaktif, penerbitan dan percetakan, serta penelitian dan pengembangan.

Semua sektor industri kreatif dapat tumbuh pesat dan tak terpengaruh resesi global yang di saat bersamaan menghantam sektor industri ekspor dan hasil tambang. Tak ada salahnya, pemerintah memperhatikan industri tersebut agar ke depannya dapat semakin berkontribusi bagi peningkatan perekonomian negara.

Sepanjang 2004-2008, sumbangan industri kreatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) rata-rata 6,3 persen. Apalagi, jika memasukkan produksi usaha kecil menengah (UKM) dan industri rumah tangga, kontribusi industri kreatif terhadap PDB mencapai 8 persen. Sebuah angka cukup besar dan perlu diperhitungkan pula sebab sektor itu pada 2006 berjumlah 5,4 juta unit usaha dan mempekerjakan jutaan orang yang menggantungkan hidupnya di situ.

Dalam rancangan Kadin, diproyeksikan dalam jangka panjang industri kreatif diharapkan mampu menyumbang sampai 11 persen PDB Indonesia. Mau tidak mau, diperlukan political will pemerintah untuk memperhatikan sektor industri itu. Selain mampu bertahan di masa sulit, keberadannya dapat menyerap banyak tenaga kerja hingga membuat pengangguran berkurang.

Berangkat dari itu, baik kiranya pemerintah mendengarkan aspirasi para pegiat industri kreatif yang menyeru untuk diberikan keringanan insentif pajak melalui program pengurangan biaya penelitian dan pengembangan. Dipastikan, jika dilaksanakan, daya saing industri kreatif dalam negeri akan lebih baik dan mampu bersaing dengan produk negara maju.

Penghapusan pajak ganda juga diperlukan agar industri kreatif dapat lebih berkibar dalam
mengembangkan sayapnya. Kondisi itu tak boleh ditawar lagi oleh pemerintah sebab dalam road map Departemen Perindustrian 2025, disebutkan industri kreatif diupayakan menjadi pilar keempat perekonomian nasional, yang keberadaannya bakal menemani sektor pertanian, industri dan jasa.

Mulai sekarang seyogianya kebijakan yang dikeluarkan pemerintah sudah harus terintegrasi dan memberikan keleluasaan bagi industri kreatif untuk dapat berkembang dan berinovasi supaya tetap eksis mengangkat ekonomi bangsa.

Oleh Erik Purnama Putra
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

Dampak Keputusan MK Menganulir KPU

Posted in Politik on Agustus 20, 2009 by erikpurnama

Majalah Forum Keadilan, Edisi No. 16, 9 Agustus 2009

KEPUTUSAN Mahkamah Konstitusi (MK) pada 11 Juni yang membatalkan SK Komisi Pemilihan Umum (KPU) Nomor 259 terkait dengan penetapan kursi tahap III, di mana kursi di tingkat provinsi dihitung suara di tingkat daerah pemilihan yang masih memiliki sisa suara kursi saja menimbulkan pergeseran kursi beberapa partai politik (parpol) yang lolos parliamentary threshold. Karena dengan ketetapan MK tersebut maka ada 5 dari 9 parpol yang meloloskan kadernya duduk di kursi legislator harus mengalami perubahan. Di satu sisi ada parpol yang diuntungkan sebab mengalami peningkatan jumlah kadernya yang lolos ke Senayan. Namun juga ada yang mengalami penurunan jumlah wakil rakyat akibat dibatalkannya hasil penghitungan model KPU.

Dari beberapa jumlah parpol yang meloloskan kadernnya di Senayan, Partai Hanura mengalami kerugian sebab harus kehilangan 2 kursi dari total 18 menjadi 16 kader yang duduk di DRP-RI, Partai Golkar kehilangan 1 kursi menjadi 106 anggota dari sebelumya 107, dan Partai Demokrat menyusut dari 150 menjadi 149 atau berkurang 1 kursi. Sementara Partai Amanat Nasional (PAN) mendapatkan tambahan 3 kursi menjadi 46, dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dari sebelumnya 27 anggota DPR-RI sekarang naik 28.

Masalah tak berhenti sampai di situ, sebab baik partai yang mengalami perubahan kursi maupun tetap masih menghadapi persoalan internal terkait perubahan nama anggota legislator yang lolos di Senayan. Salah satu contoh yang menonjol adalah terpentalnya Ketua DPR periode 2004-2009, Agung Laksono dari kursi Senayan. Sedangkan nama baru seperti Eurico Guiterres, malah beruntung akhirnya lolos akibat hasil keputusan MK yang membatalkan penghitungan model KPU.

Akibat dampak perubahan komposisi wakil rakyat yang duduk di parlemen akan mengalami masalah pada internal parpol masing-masing sebab kader yang harusnya lolos akhirnya terpental. Sebaliknya yang dulu gagal malah sekarang mendapat berkah dan lolos sebagai anggota legislator. Sehingga dimungkinkan terjadi gesekan antarkader sebab ada yang kecewa dan bahagia menyikapi keputusan MK. Maka itu parpol wajib menyelesaikan pekerjaan rumahnya supaya masalah itu tak meluas.

Tak hanya itu, masalah lain akibat pembatalan kursi anggota DPR-RI adalah semakin membuat kinerja KPU semakin berat di tengah persiapan menghelat pemilihan presiden (pilpres) yang kurang 1 bulan lagi. Mengingat di saat KPU masih disibukkan persiapan untuk menyukseskan pesta demokrasi agar berjalan lancar, yang tentu menyita waktu dan pikiran. KPU masih harus mengurusi masalah penetapan nama anggota dewan yang lolos ke Senayang. Sehingga ditakutkan kinerja lembaga pimpinan Abdul Hafiz Anshary tak maksimal bekerja sebab konsentrasinya terpecah mengurusi masalah itu.

Meskipun begitu, keputusan MK yang membatalkan kursi parpol versi KPU itu bersifat mengikat dan menjadi rujukan akhir bagi penetapan komposisi jumlah anggota DPR-RI. Karenanya, kita tunggu saja agar KPU segera merilis nama resmi anggota DPR-RI periode 2009-2014, supaya masyarakat tahu siapa saja para wakil rakyat terpilih.

Erik Purnama P.
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang
erikeyikumm@yahoo.co.id

Permasalahan Sampah di Sekitar Kita

Posted in Lingkungan on Agustus 20, 2009 by erikpurnama

Jumat, 7 Agustus 2009 (Surabaya Post)
Tatanan kehidupan manusia telah dipengaruhi aspek materialisme global, yang membuat penduduk bumi terperangkap dalam gaya hidup kapitalisme. Salah satu ciri gaya hidup kapitalis yang dijalankan masyarakat adalah belanja di mal maupun supermarket dengan menenteng banyak belanjaan dalam tas plastik.

Berlebihan kah saya menganggap bahwa perilaku masyarakat itu sebagai wujud menyebarnya gaya hidup kapitalis? Pada kenyataannya benar seperti itu. Kehidupan modern telah membawa konsekuensi tinggi terhadap ancaman bagi lingkungan. Gegap gempita modernisasi yang selalu didengungan bakal membawa kemajuan berarti bagi kehidupan masyarakat ternyata membawa dampak berat bagi tercemarnya lingkungan.

Liat saja tumpukan sampah plastik yang mudah ditemui di setiap pojok penampungan sampah. Di mana, tas plastik atau orang Jawa biasa menyebutnya kresek begitu terongok di setiap tumpukan sampah yang bejibun. Padahal, jika dibiarkan begitu saja, barang-barang bekas pakai itu bakal menjadi barang tidak berguna. Dan hanya semakin menambah jumlah sampah yang sudah menggunung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Karena itu, sudah seharusnya masyarakat dan pemerintah daerah (pemda) untuk turun tangan menyikapi keadaan tersebut. Pasalnya, jika dibiarkan, akumulasi sampah dapat menjadi bom waktu yang bisa membahayakan kehidupan manusia. Boleh jadi masalah sampah memang belum menjadi fokus utama perbincangan pemimpin bangsa-bangsa di dunia.

Padahal ancaman sampah begitu nyata dan siap menerkam manusia setiap saat jika dibiarkan begitu saja. Sampah plastik misalnya, jika dibiarkan terus tanpa pernah diolah akan merusak struktur tanah, karena tidak bisa terurai tanah. Repotnya, masyarakat sangat gemar menggunakan plastik sebagai tempat membawa barang belanjaan.

Sayangnya, seperti kebiasaan masyarakat kita, jika sudah di rumah tas kresek itu langsung dibuang karena dianggap sebagai benda tidak berharga. Kurangnya kesadaran masyarakat akan bahaya yang ditimbulkan tumpukan plastik membuat banyak orang seenaknya sendiri dalam menggunakan tas kresek yang baru sekali dipakainya.

Yang lebih parah lagi, selaku pihak yang berwenang mengurusi sampah, pemda hanya mengelola sampah dengan gaya feodal. Maksudnya, sampah yang kelihatan di permukaan yang diangkut dan dibersihkan. Urusan mau diapakan atau dibuang ke mana bukan jadi soal, yang penting sampah yang terangkut dan pemda sudah melaksanakan tugasnya. Padahal, di kalangan pecinta dan pengkaji lingkungan, manajemen pengelolaan sampah yang baik akan menghasilkan sebuah sampah bernilai tinggi yang bisa menghasilkan rupiah.

Erik Purnama Putra
Mahasiswa UMM
erikeyikumm@yahoo.co.id

Jangan Terpukau Promosi PT

Posted in Pendidikan on Agustus 20, 2009 by erikpurnama

Jumat, 7 Agustus 2009 (Jurnal Nasional)

SEKARANG ini, banyak siswa SMA yang sudah lulus berjuang mencari perguruan tinggi (PT) untuk menempuh jenjang pendidikan selanjutnya. Biasanya di saat seperti itu adalah masa di mana banyak perguruan tinggi swasta (PTS) saling berlomba mengiklankan diri guna menarik minat mahasiswa sebanyak mungkin agar kuliah ditempat PT bersangkutan pascapenerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri (PTN) ditutup.

Biasanya yang melakukan jor-joran memasang iklan adalah PTS tertentu yang memiliki kemampuan financial cukup, mengingat untuk PT negeri tak masalah karena sudah pasti dijubeli calon mahasiswa. Karena itu, pada masa inilah dapat dikatakan sebagai momen yang paling rawan bagi calon mahasiswa yang akan menuntut jenjang pendidikan di kampus. Pasalnya jika sampai mereka salah pilih universitas, maka hal itu bisa menimbulkan sebuah penyesalan yang berkepanjangan.

Banyak PT yang mengiklankan diri tujuan utamanya adalah untuk menjaring mahasiswa sebanyak-banyaknya.
Banyak segala hal yang dijual PT tersebut yang kadang hal itu terasa berlebihan, dan salah satunya adalah menjual bangunan secara fisik sebagai penarik agar calon mahasiswa tertarik kuliah di tempat itu. Maka itu, kadang yang diiklankan tak sesuai dengan realita yang ada ketika mahasiswa sudah kuliah di situ. Biasanya pada awal masuk kuliah mahasiswa akan disambut dengan senyum ramah, tetapi ketika masa penerimaan mahasiswa baru (maba) berakhir mereka akan dilayani apa adanya.

Di sinilah letak permasalahannya, biasanya banyak lulusan SMA yang langsung terpukau dengan iklan yang ditawarkan PTS. Memang mahasiswa yang masih minim referensi tidak bisa disalahkan sepenuhnya atas kondisi itu. Tetapi dengan makin gencarnya PTS yang mengiklankan diri di media massa (elektronik dan cetak) membuat banyak calon mahasiswa yang tertarik hingga memilih kuliah di situ.

Program promosi yang dilakukan PTS biasanya sangat beragam, mulai dari kualitas pendidikan dosennya, output yang dihasilkan, saran dan prasarana yang dimiliki, potongan biaya masuk gedung, tawaran beasiswa, hingga jualan gelar nama dosen terkenal, yang tentu saja hal itu pasti memikiat banyak calon maba untuk kuliah di PT tersebut.

Padahal PTS yang baik bukan hanya dilihat dari aspek itu-itu saja. Melainkan juga masih banyak faktor lain yang membuat sebuah PT dapat dikatakan memiliki keunggulan akademik. Pengalaman dari tahun lalu yang banyak memakan korban, di mana banyak mahasiswa yang setelah kuliah di PT yang bersangkutan akhirnya mengeluh karena segala sarana yang dijanjikan selama promosi ternyata tak didapatkan selama kuliah berlangsung.

Karena sudah banyak mahasiswa yang akhirnya hanya bertahan satu semester di PTS karena apa yang diterimanya selama kuliah ternyata tidak sama dengan apa yang dijanjikan selama promosi. Kita tak bisa menyalahkan sepenuhnya PT bersangkutan, sehingga dari diri sendiri yang sekarang harus berhati-hati dan tak mudah percaya dengan segala penawaran promosi yang disedikan PT. Boleh-boleh saja PT menjual nama dosen terkenal atau guru besarnya, namun hal itu bukan merupakan sebuah jaminan mutu seratus persen bahwa di PT tersebut kualitasnya memang baik dan layak untuk anda kuliah di situ.

Erik Purnama Putra
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

Tuntutan Pemilu Ulang Mengada-ngada

Posted in Politik on Agustus 20, 2009 by erikpurnama

Rabu, 5 Agustus 2009 (Jurnal Nasional)

SETELAH Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan hasil pengitungan manual pemilihan presiden (pilpres) yang menempatkan pasangan SBY-Boediono sebagai pemenang dengan perolehan suara 60 persen, idealnya seluruh pasangan capres yang kalah mengakui hasil pilpres tersebut. Namun kenyataannya, Megawati-Prabowo dan Jusuf Kalla-Wiranto seperti menutup mata dengan fakta yang ada. Buktinya adalah tidak member selamat kepada SBY-Boediono. Malah keduanya pascapenetapan pengumuman pemenang pilpres malah melaporkan berbagai temuan yang diindikasikan sebagai bentuk kecurangan yang menguntungkan pasangan SBY-Boediono ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Memang tak ada yang salah dengan tindakan dua kubu melaporkan berbagai gugatan terkait pelanggaran pilpres ke MK. Tetapi yang jadi persoalan adalah berbagai tuntutan yang disuarakan yang menginginkan bahwa pemilu 2009 yang sebenarnya berjalan demokratis dituntut untuk dibatalkan secara hasil sebab dinyatakan cacat hukum. Dan kubu yang paling keras menyuarakan penolakan hasil pilpres adalah dari Mega-Prabowo.

Sebagai masyarakat sungguh ironis sekali sikap yang ditunjukkan pasangan Mega-Prabowo yang tak mengakui hasil pilpres dengan menuntut diselenggarakan ulang sebab dinilai dan merugikan dirinya. Pasalnya, dari berbagai temuan yang dilaporkan tim suksesnya dari berbagai daerah, terutama di 25 provinsi didapat bahwa banyak sekali daftar pemilih tetap (DPT) ganda yang disinyalir merupakan pendukung SBY-Boediono. Sementara di daerah tertentu yan gmerupakan basis pendukung Megawati-Prabowo, ternyata banyak warga yang tak terdata. Sehingga banyak diberbagai daerah suara Megawati-Prabowo berkurang akibat masalah tersebut, dan di saat bersamaan capaian suara SBY-Boediono meningkat.

Berpatokan itu saya menilai langkah tim pasangan Megawati-Prabowo yang mengajukan tuntutan ke MK dengan harapan agar terjadi pengulangan pemilu di 25 provinsi yang dituduhkan banyak kecurangan hanya sebuah bentuk tuduhan mengada-ngada. Hal itu sebagai bentuk tak mampunya mereka mengakui kekalahan yang sudah terjadi.

Sebagai politikus yang berjiwa kenegarawanan sudah semestinya kubu Megawati-Prabowo tak terlalu mengejar ambisi pribadi dengan mengatasnamakan kepentingan bangsa yang menyesatkan. Karena masyarakat sudah bosan dengan tingkah laku elite yang bisanya menghalalkan segala cara demi memuluskan agar dapat keuntungan pribadi.

Sebuah bentuk rasionalisasi menggelikan yang hanya dibuat untuk menguntungkan kubu Megawati-Prabowo. Pasalnya, merupakan keanehan jika mayoritas masyarakat Indonesia sudah menentukan pilihannya kepada SBY-Boediono, dan diperkuat hasil KPU yang merupakan ketetapan hukum, namun oleh Megawati-Prabowo masih diperkarakan hingga menginginkan diselenggarakan penyontrengan ulang.

Apalagi seperti yang dijelaskan mereka bahwa alasan pengaduan ke MK itu merupakan bentuk agar demokrasi di Indonesia dapat berkualitas. Mengingat tujuan agar diselenggarakan pemilu ulang hanya sebuah bentuk pemenuhan ambisi pribadi. Sehingga jika disuarakan bahwa itu untuk kebaikan bangsa Indonesia maka semuanya tak lebih sekedar omong kosong belaka.

Erik P. Putra
Akademikus Bestari UMM
Gedung SC Lt.1 Bestari Kampus III Unmuh Malang